DEWI MANGROVE SARI, GADIS CANTIK YANG LAHIR DI TENGAH BENCANA

Main Article Content

Titis Puspitarini Astuti Kusumawicitra Laturiuw

Abstract

Awalnya, penduduk di Desa Kaliwlingi, Kabupaten Brebes, terdampak abrasi sebagai akibat pembabatan hutan mangrove yang dialihfungsikan sebagai tambak. Ketika terjadi krisis di periode 1990-an, yang menyebabkan harga udang merosot, para penduduk memilih merantau keluar desa dan menjadi pekerja kasar. Bersamaan dengan merosotnya harga udang windu, bencana gelombang air laut dan rob datang merusak tambak dan pemukiman warga. Melihat kerusakan yang terjadi, warga kemudian tergerak untuk kembali menanam mangrove di sepanjang pesisir pantai guna menekan laju abrasi dan kerusakan lebih lanjut. Upaya konservasi lahan mangrove yang dilakukan ternyata tidak hanya berhasil dalam mengurangi kerusakan akibat abrasi, tetapi juga memberikan dampak positif bagi ekosistem di Dukuh Pandansari. Desa Kaliwlingi kemudian menjadi salah satu daerah yang masuk dalam rencana DINPARBUDPORA Kabupaten Brebes sebagai lokasi pengembangan wisata mangrove dengan nama Desa Wisata Mangrove Sari (Dewi Mangrove Sari). Kelompok sasaran pengabdian kepada masyarakat yang dilakukan adalah para pemilik pondok wisata, pengusaha bidang kuliner, dan penanggung jawab bidang pemasaran Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Dewi Mangrove Sari. Dengan metode lokakarya dan mentoring, kelompok sasaran didampingi untuk meningkatkan keterampilan dan pengetahuan di bidang pariwisata. Salah satu luaran adalah pembenahan situs web yang dimiliki oleh Pokdarwis.

Article Details

Section
Articles