MENDONGKRAK DAYA SAING UMKM MELALUI WORKSHOP ENAM PROGRAM PIORITAS PADA DESA TERTINGGAL MARGAMULYA KECAMATAN CILELES, KABUPATEN LEBAK, BANTEN

Main Article Content

Faisal Marzuki Alfatih S. Manggabarani Mahendro Sumardjo

Abstract

Metode pelaksanaan program kemitraan masyarakat ini adalah partisipasi antara tim program kemitraan masyarakat dan para pelaku UMKM di Kecamatan Cileles. Metode ini digunakan agar mitra memberikan kontribusi dalam peningkatan usahanya. Dengan demikian, diharapkan luaran kegiatan yang dihasilkan dapat dimanfaatkan dengan baik serta berkelanjutan oleh mitra. Para pelaku UMKM yang terlibat 150 orang. Setelah kegiatan pengarahan, disimpulkan bahwa rata-rata pelaku UMKM tidak memperhatikan proses produksi dan inovasi mereka, hanya melihat peluang yang ada di sekitarnya dengan alasan barang atau jasa yang mereka produksi dapat dihasilkan untuk memenuhi kebutuhan sendiri ataupun keluarganya. Kemudian, dalam kemudahan berusaha sebagian besar pun tidak memerhatikan halhal yang sangat penting dalam berwirausaha, yaitu bagaimana mendirikan serta melaporkan usahanya tersebut. Lalu, pada akses modal, sebagian UMKM hanya mengandalkan modal sendiri dengan alasan tidak mengetahui cara mendapatkan modal dengan mudah serta sumber-sumber yang menguntungkan. Dalam proses akses pasar hanya beberapa pelaku usaha yang kurang memerhatikan cara menjual dan memasarkan hasil produk untuk masyarakat luas. Dukungan infrastruktur juga membuat pelaku UMKM kurang termotivasi untuk menjadi lebih baik. Disimpulkan bahwa pelaku usaha UMKM di Desa Margamulya Kecamatan Cileles mulai memahami dan mengerti bagaimana cara agar usahanya berkembang, mulai dari inovasi yang diciptakan, kebutuhan penduduk pada masa mendatang, cara mendirikan usaha yang baik dan benar agar usaha mereka lebih berkembang dan dikenal masyarakat, lebih memahami pemilihan tempat, promosi, harga, serta produk unggulan mereka yang berbeda dengan UMKM lainnya, dan menggunakan beberapa fasilitas pemerintah yang sebelumnya tidak diketahui. Dari wawancara, permasalahan para UMKM, di antaranya keterbatasan bahan pokok penjualan karena harus menunggu barang dari Jakarta, kecuali bahan pokok utama untuk pelaku UMKM dapat dijangkau dengan hasil cocok tanam sendiri. Selanjutnya, masalah permodalan dengan biaya bunga kecil dan kurangnya dukungan dari pemerintah setempat dalam mempromosikan produk-produk unggulan para UMKM tersebut.

Article Details

Section
Articles