Damianus Journal of Medicine https://ejournal.atmajaya.ac.id/index.php/damianus <p><strong>Damianus Journal of Medicine (DJM)</strong> is a scientific medical journal presenting the latest updates in medical and health research. <br />DJM has been published since 2002 by the School of Medicine and Health Sciences - Atma Jaya Catholic University of Indonesia. It is now published <strong>three times per year</strong>, every <strong>April, August, and December</strong>. </p> <p><strong>Damianus Journal of Medicine</strong> is indexed in several databases, including <strong>Science and Technology Index (SINTA) Rank 3.</strong></p> <p>The editorial team invites researchers, practitioners, and students to write scientific developments in fields related to medicine and health.</p> en-US yuda.turana@atmajaya.ac.id (Yuda Turana) veronika.maria@atmajaya.ac.id (Veronika Maria Sidharta) Tue, 31 Dec 2024 00:00:00 +0100 OJS 3.3.0.13 http://blogs.law.harvard.edu/tech/rss 60 Gambaran histopatologi spesimen gaster pasca laparoscopic sleeve gastrectomy di Rumah Sakit Sumber Waras, Jakarta Barat https://ejournal.atmajaya.ac.id/index.php/damianus/article/view/5488 <p><strong>Pendahuluan: </strong>Obesitas seringkali menimbulkan berbagai masalah kesehatan. <em>L</em><em>aparoscopic </em><em>S</em><em>leeve </em><em>G</em><em>astre</em><em>c</em><em>tom</em><em>y</em> (LSG) merupakan pilihan terapi bagi pasien obesitas berat yang gagal dengan perubahan gaya hidup atau terapi obat. Publikasi perubahan histopatologi spesimen gaster pasca LSG masih sedikit. Tujuan penelitian ini adalah mempelajari data demografi dan gambaran histopatologi pasien yang telah menjalani LSG.</p> <p><strong>Metode: </strong>Penelitian ini adalah penelitian deskriptif potong lintang dengan jumlah sampel sebanyak 140 pasien dan berlokasi di RS Sumber Waras, Jakarta Barat, Indonesia. Variabel penelitian adalah jenis kelamin, umur, dan gambaran histopatologi. Data pasien yang menjalani LSG antara bulan Desember 2018 – Desember 2023 dikumpulkan secara purposive sampling.</p> <p><strong>Hasil: </strong>Hasil penelitian menunjukkan 140 pasien telah menjalani LSG dan diperiksa gambaran histopatologinya, perempuan 114 orang (81,4%) dan laki-laki 26 orang (18,6%). Usia penderita berkisar antara 13 hingga 67 tahun, dan sebagian besar pada kelompok usia 31-40 tahun. Histopatologi spesimen terbanyak adalah gastritis kronik sebanyak 37,2%, disusul gambaran gaster normal sebanyak 31,4%, agregat limfoid (18,6%), polip kelenjar fundus (4,3%), gastropati kongestif (2,7%), gastritis atrofik (1,6%), leiomioma (1,6%), hiperplasia kelenjar fundus (1,1%), polip inflamatorik (0,5%), divertikel (0,5%), dan neurofibroma (0,5%).</p> <p><strong>Simpulan:</strong> Gambaran histopatologi yang didapatkan pada spesimen gaster pasca LSG bervariasi dari gaster normal, lesi non neoplasma, dan neoplasma jinak yaitu leiomioma dan neurofibroma. Hasil temuan penelitian ini menunjukkan perlunya pemeriksaan histopatologi rutin pada spesimen LSG.</p> Stefanny Sartono, Sony Sugiharto Copyright (c) 2024 Damianus Journal of Medicine http://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0 https://ejournal.atmajaya.ac.id/index.php/damianus/article/view/5488 Tue, 31 Dec 2024 00:00:00 +0100 The influence of social support and demographics on depression and mild cognitive decline in devout elderly individuals https://ejournal.atmajaya.ac.id/index.php/damianus/article/view/6002 <p><strong>Introduction:</strong> Elderly individuals often experience psychosocial vulnerabilities that increase their risk for psychological disorders and are linked to cognitive impairments. This study explored how social support and demographic variables relate to the incidence of depression and cognitive decline among devout older adults.</p> <p><strong>Methods</strong>: This cross-sectional observational study involved 125 senior participants from the Javanese Christian Church in Ambarrukma District of Yogyakarta. The research utilized demographic questionnaires, social support evaluations, surveys on religious attitudes, the Geriatric Depression Scale, and the MOCA-Ina tests. Data will undergo univariate and bivariate analyses and binary linear regression to evaluate odds ratios (OR), 95% confidence intervals (CI), and Pearson correlations between variables.</p> <p><strong>Results</strong>: Elderly devout respondents (99.2%) who received good social support were more likely to experience no depression (47.9%) than those with poor social support (40.3%) (p=0.025; OR 0.182; 95% CI 0.038-0.873). The female gender suffered more from mild depression (p=0.021; OR 0.176; 95% CI 0.037-0.841) compared to men. Older adults with an education level of 7 years or more showed less mild cognitive impairment (p=0.044; OR 4.500; 95% CI 0.929-21.802).</p> <p><strong>Conclusion: </strong>This study revealed that social support plays a role in modifying the incidence of depression in devout elderly individuals. The female gender suffered more from mild depression. Additionally, lower education levels were correlated with mild cognitive impairment. Further research with a more robust analysis with a larger sample size and consideration of other factors is necessary to confirm the causal relationships between social support and gender and depression.</p> <p> </p> Tejo Jayadi, Maria Meiwati Widagdo The, Christiane Marlene Sooai, Bunga Matahari Indonesia, Maria Agustina, Bernadeta Amaya Waskitaningtyas Copyright (c) 2024 Damianus Journal of Medicine http://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0 https://ejournal.atmajaya.ac.id/index.php/damianus/article/view/6002 Tue, 31 Dec 2024 00:00:00 +0100 Hubungan derajat miopisasi dengan katarak senilis pada pasien katarak nuklear https://ejournal.atmajaya.ac.id/index.php/damianus/article/view/5048 <p><strong>Pendahuluan: </strong>Katarak adalah penyebab utama gangguan penglihatan, memengaruhi jutaan orang di seluruh dunia, termasuk 81% kasus kebutaan di Indonesia, terutama katarak senilis. Miopia, yang sering dikaitkan dengan katarak nuklear, terjadi akibat perubahan indeks bias pada lensa mata yang mengakibatkan "<em>myopic shift</em>" atau miopisasi. Miopisasi dapat memberikan ilusi perbaikan penglihatan dekat ("<em>second-sight</em>"), yang sering menunda diagnosis dan perawatan katarak. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui insidensi dan derajat miopisasi pada pasien katarak senilis di klinik mata Rumah Sakit Atma Jaya (RSAJ), Jakarta.</p> <p><strong>Metode: </strong>Penelitian analitik dengan metode potong lintang retrospektif pada 92 sampel mata pasien di klinik mata RSAJ. Pengumpulan data dilakukan melalui rekam medis pasien yang terdiagnosis katarak senilis tipe nuklear dan mengalami miopisasi. Pengambilan data rekam medis dilakukan di RSAJ pada bulan April 2023 – Juli 2023 kemudian dilanjutkan pengolahan data dengan uji <em>Chi-square</em>.</p> <p><strong>Hasil: </strong>Penelitian ini menunjukkan insidensi miopisasi pada katarak senilis berjenis nuklear dengan derajat NO3-NO6 sebesar 39,1% dengan derajat miopia ringan terbanyak yaitu 88,1% dan terdapat hubungan bermakna antara derajat miopisasi ringan dengan katarak senilis tipe nuklear (p=&lt;0,001). Hasil analisis data juga menunjukkan tidak terdapat hubungan antara derajat miopisasi sedang dengan katarak senilis tipe nuklear (p=0,056).</p> <p><strong>Simpulan: </strong>Penelitian ini menunjukkan adanya hubungan antara derajat miopisasi ringan dan sedang dengan katarak senilis tipe nuklear pada pasien di klinik mata RSAJ. <strong> </strong></p> Vania Nirmala Tjan, Angela Shinta Dewi Amita, Cisca Kuswidyati, Evi Ulina Margareta, Rita Dewi Copyright (c) 2024 Damianus Journal of Medicine http://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0 https://ejournal.atmajaya.ac.id/index.php/damianus/article/view/5048 Tue, 31 Dec 2024 00:00:00 +0100 Gambaran corticophobia pada pasien psoriasis Indonesia: Studi berbasis TOPICOP https://ejournal.atmajaya.ac.id/index.php/damianus/article/view/5639 <p><strong>Pendahuluan: </strong><em>Corticophobia </em>adalah kekakutan atau kekhawatiran terhadap kortikosteroid topikal <em>(topical corticosteroids, </em>TCS), terutama terhadap efek sampingnya, seperti penipisan kulit. Dampak yang paling dikhawatirkan dengan <em>corticophobia </em>adalah ketidakpatuhan terhadap pengobatan TCS. Penelitian ini bertujuan untuk mencari gambaran <em>corticophobia </em>di Indonesia yang belum pernah dilakukan sebelumnya.</p> <p><strong>Metode: </strong>Sebuah kuesioner disebar pada <em>story </em>Instagram pada akun Instagram dari organisasi Psoriasis Indonesia @psoriasis_id. Kuesionernya berisi identitas pasien, diagnosis kualitatif <em>corticophobia, </em>riwayat penggunaan TCS, dan kuesioner TOPICOP yang telah diterjemahkan ke bahasa Indonesia. Kriteria inklusi adalah pasien atau orang tua pasien psoriasis.</p> <p><strong>Hasil: </strong>Sebanyak 204 responden yang telah memenuhi kriteria inklusi diminta untuk mengisi kuesioner. Prevalensi <em>corticophobia </em>adalah 76% dengan nilai rerata TOPICOP 68,3%, keduanya relatif tinggi dibanding negara lainnya. Domain dengan nilai TOPICOP tertinggi adalah domain kekhawatiran, sedangkan <em>item</em> dengan nilai TOPICOP tertinggi adalah “Saya memerlukan kepastian keamanan penggunaan TCS.” Pada penelitian ini, perempuan juga secara konsisten memiliki prevalensi <em>corticophobia </em>dan nilai TOPICOP lebih tinggi pada setiap populasi.</p> <p><strong>Simpulan: </strong>Intervensi yang sesuai terdiri dari edukasi yang tepat dan menjaga hubungan dokter-pasien harus dilakukan pada pasien dengan atau berisiko mengalami <em>corticophobia, </em>dan penelitian <em>corticophobia </em>di Indonesia yang lebih luas dengan jumlah sampel lebih besar dan pada populasi lain masih dibutuhkan.</p> <p><strong>Kata Kunci: </strong><em>corticophobia, </em>kortikosteroid topikal, TOPICOP</p> Kenley Halim, Shirly Gunawan Copyright (c) 2024 Damianus Journal of Medicine http://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0 https://ejournal.atmajaya.ac.id/index.php/damianus/article/view/5639 Tue, 31 Dec 2024 00:00:00 +0100 In silico analysis of miRNA-mRNA pair(s) in metabolic syndrome and Parkinson's: Molecular links and potential biomarkers https://ejournal.atmajaya.ac.id/index.php/damianus/article/view/5606 <p><strong><em>Introduction:</em></strong><em> Parkinson's disease (PD) is the second most common neurodegenerative disease. Identification of PD biomarkers is critical for early diagnosis and development of therapeutic targets. There are many factors that are associated with PD, including metabolic syndrome (MetS). However, molecular links between MetS and PD for biomarkers is still a challenge. This study aims to determine the molecular links between MetS and PD using an in silico approach.</em></p> <p><strong><em>Methods:</em></strong><em> Data were obtained from Gene Expression Omnibus to identify differentially expressed genes (DEGs) and microRNA (DEMs) in PD and MetS. DEGs were mapped to protein-protein interaction (PPI) networks using the STRING platform. Then, gene ontology (GO) and pathway analysis was performed with EnrichR to reveal specific and overlapped biological processes. Finally, microRNA (miRNA) and mRNA pairs were predicted using TargetScan.</em></p> <p><strong><em>Results:</em></strong><em> A total of 25 DEGs were identified in both MetS and PD. GO and pathway analysis for MetS-PD revealed that these DEGs mainly related to metabolic and cytokine pathways. Examination of miRNA showed that hsa-miR-631 was down-regulated in both MetS and PD. GO and pathway analysis on predicted targets of hsa-miR-631 showed major changes in metabolic pathways. Hsa-miR-631 can target the 3' UTR of ATP2B4 at poorly conserved site, indicating a specific miRNA-mRNA pairing in humans.</em></p> <p><strong><em>Conclusion:</em></strong><em> In patients with MetS and PD, hsa-miR-631 and ATP2B4 are depleted and elevated, respectively. Bioinformatic analysis indicates that ATP2B4 is a target of hsa-miR-631. We demonstrate for the first time that hsa-miR-631/ ATP2B4 pair is potential biomarker for PD due to MetS.</em></p> Ferbian Milas Siswanto, Maria Dara Novi Handayani, Rita Dewi, Novelya Novelya , Ferdian Manuel Wijaya, Meisy Finnegan Copyright (c) 2024 Damianus Journal of Medicine http://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0 https://ejournal.atmajaya.ac.id/index.php/damianus/article/view/5606 Tue, 31 Dec 2024 00:00:00 +0100 Depresi dan pendidikan rendah sebagai determinan utama kualitas hidup pada lansia https://ejournal.atmajaya.ac.id/index.php/damianus/article/view/4822 <p style="margin: 0cm; text-align: justify;"><strong><span lang="IN" style="font-size: 10.0pt; font-family: 'Arial',sans-serif; color: black;">Pendahuluan: </span></strong><span lang="IN" style="font-size: 10.0pt; font-family: 'Arial',sans-serif; color: black;">Kualitas hidup mencerminkan status kesehatan dan kesejahteraan lansia, namun kualitas hidup cenderung menurun seiring dengan bertambahnya usia. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor (faktor sosiodemografi, depresi, dan fungsi kognitif) yang paling berpengaruh terhadap kualitas hidup lansia. </span></p> <p style="margin: 0cm; text-align: justify;"><strong><span lang="IN" style="font-size: 10.0pt; font-family: 'Arial',sans-serif; color: black;">Metode:</span></strong><span lang="IN" style="font-size: 10.0pt; font-family: 'Arial',sans-serif; color: black;"> Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif analitik dengan pendekatan studi potong lintang yang dilakukan pada 205 responden berusia ≥60 tahun di Pusat Santunan Keluarga (PUSAKA) Jelambar dan Kebon Jeruk, Jakarta Barat. Kualitas hidup dinilai dengan kuesioner <em>World Health Organization Quality of Life</em> – BREF (<em>WHOQOL-BREF</em>); depresi dinilai dengan <em>Geriatric Depression Scale-15</em>; fungsi kognitif dinilai dengan <em>Montreal Cognitive Assessment</em> versi Indonesia; variabel lainnya menggunakan kuesioner. Regresi logistik multivariat digunakan untuk menganalisis hubungan antara kualitas hidup dan faktor-faktor yang mempengaruhinya. </span></p> <p style="margin: 0cm; text-align: justify;"><strong><span lang="IN" style="font-size: 10.0pt; font-family: 'Arial',sans-serif; color: black;">Hasil:</span></strong> <span lang="IN" style="font-size: 10.0pt; font-family: 'Arial',sans-serif;">Berdasarkan karakteristik sosiodemografi, sebagian besar responden adalah wanita (72,2%), dengan usia lebih dari sama dengan 70 tahun (57,1%), berpendidikan kurang dari sama dengan 12 tahun (56,1%), dan bertatus menikah (55,6%). Hasil analisis menunjukkan bahwa terdapat hubungan signifikan antara depresi dengan <span style="color: black;">kualitas hidup secara keseluruhan (<em>p</em>=0,014; OR=2,566), kepuasan terhadap kesehatan (<em>p</em>=0,007; OR=2,869), domain fisik (<em>p</em>=0,003; OR=3,049), domain psikologis (p=0,000; OR=4,458), domain hubungan sosial (<em>p</em>=0,000; OR=3,967), dan domain lingkungan (<em>p</em>=0,001; OR=3,407). Pendidikan memiliki hubungan yang signifikan dengan kualitas hidup secara keseluruhan (<em>p=</em> 0,002), kepuasan terhadap kesehatan (<em>p=</em> 0,016), domain fisik (<em>p=</em> 0,004), domain psikologis (<em>p=</em> 0,012), dan domain lingkungan (<em>p=</em> 0,008). Selain itu, usia hanya memiliki hubungan yang signifikan dengan kualitas hidup secara keseluruhan (<em>p=</em> 0,004).</span></span></p> <p style="margin: 0cm; text-align: justify;"><strong><span lang="IN" style="font-size: 10.0pt; font-family: 'Arial',sans-serif; color: black;">Simpulan: </span></strong><span lang="IN" style="font-size: 10.0pt; font-family: 'Arial',sans-serif; color: black;">Pendidikan rendah berpengaruh terhadap kualitas hidup secara keseluruhan, kepuasan terhadap kesehatan, domain fisik, domain psikologis, dan domain lingkungan, sedangkan depresi menjadi faktor yang paling berpengaruh terhadap kualitas hidup dan keempat domainnya serta lansia yang mengalami depresi lebih berisiko memiliki kualitas hidup yang buruk. </span></p> Caroline Alvina Elsiandi, Yuda Turana, Yvonne Suzy Handajani, Jimmy Fransisco Abadinta Barus Copyright (c) 2024 Damianus Journal of Medicine http://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0 https://ejournal.atmajaya.ac.id/index.php/damianus/article/view/4822 Tue, 31 Dec 2024 00:00:00 +0100 Efek daun kelor (Moringa oleifera) terhadap gula darah pasien prediabetes https://ejournal.atmajaya.ac.id/index.php/damianus/article/view/5576 <p><strong>Pendahuluan: </strong>Prediabetes merupakan fase awal dari Diabetes Melitus tipe 2 (DM2). Dalam setahun, sekitar 5-10% pasien prediabetes akan berlanjut menjadi Diabetes Melitus tipe 2. Daun kelor memiliki potensi dalam mengontrol kadar gula darah, khususnya sebagai terapi tambahan alami dalam pencegahan dan terapi Diabetes Melitus tipe 2. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi dampak daun kelor terhadap kadar gula darah puasa pada individu dengan prediabetes</p> <p><strong>Metode: </strong>Penelitian ini menggunakan desain <em>randomized controlled trial</em> (RCT). Pengambilan sampel dilakukan di sebuah klinik di Bekasi secara <em>consecutive sampling</em>, dengan 88 subjek yang memenuhi kriteria: prediabetes, usia 25-55 tahun, tidak menggunakan ADO dan insulin minimal 3 bulan sebelum penelitian, serta tidak sedang hamil dan menyusui. Subjek dibagi menjadi dua bagian kelompok yaitu: kelompok perlakuan (MO) yang mendapat kapsul daun kelor 2.400 mg/hari (n=45) dan kelompok kontrol (PLC) yang mendapat kapsul plasebo (n=43) selama 50 hari. Pemeriksaan kadar gula darah puasa dilakukan setiap 3 hari, dan data dianalisis menggunakan uji T-test tidak berpasangan dan Mann-Whitney (α=0,05)</p> <p><strong>Hasil: </strong>Terdapat perubahan yang bermakna dari rerata nilai kadar gula darah puasa pada kelompok perlakuan secara signifikan p &lt;0.001 yaitu setelah 38 hari perlakuan<strong>. </strong></p> <p><strong>Simpulan: </strong>Pemberian daun kelor selama 38 hari memengaruhi kadar gula darah puasa pasien prediabetes (p=0.001).</p> Steffi Steffi, Theresia Monica Rahardjo, Aloysius Suryawan Copyright (c) 2024 Damianus Journal of Medicine http://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0 https://ejournal.atmajaya.ac.id/index.php/damianus/article/view/5576 Tue, 31 Dec 2024 00:00:00 +0100 Prediktor klinis subdural kronik pada pasien lanjut usia di instalasi gawat darurat https://ejournal.atmajaya.ac.id/index.php/damianus/article/view/5416 <p><strong>Pendahuluan</strong>: Subdural hematoma kronik (cSDH) merupakan salah kasus emergensi neurologi yang sering terjadi yang lebih sering terjadi pada lansia. Diagnosis cSDH memiliki kesulitan tersendiri pada pasien lansia. Studi ini bertujuan untuk mempelajari karakteristik klinis pasien lansia yang dapat menjadi prediktor adanya cSDH dan derajat keparahan gambaran cSDH yang ditemukan pada hasil CT-scan kepala.</p> <p><strong>Metode</strong>: Penelitian ini merupakan studi kasus-kontrol yang dilakukan di Instalasi Gawat Darurat Neurologi RSUP Prof. dr. I.G.N.G. Ngoerah dalam periode 3 tahun. Studi melibatkan 85 pasien lansia cSDH dan 85 kontrol yang terbukti tidak ada perdarahan intrakranial dari data imaging. Pengumpulan dan pengolahan data yang dilakukan meliputi variabel karakteristik demografi, faktor risiko, presentasi klinis, dan karakteristik cSDH pada gambaran <em>computed-tomography scan</em> (CT-scan) kepala.</p> <p><strong>Hasil</strong>: Studi ini menemukan pasien cSDH dengan rata-rata usia 72,9±8.1 tahun dan 75,3% laki-laki. Penurunan kesadaran dan defisit fokal merupakan presentasi klinis yang paling sering ditemukan dengan median onset 3 hari (rentang 1-30 hari). Usia lebih tua, laki-laki (RO=2,84, 95% IK 1,45-5,45, p=0,001), hipertensi (RO=3,66, 95% IK 1,89-7,06, p=0,000), dan gangguan ginjal kronik (RO=2,77, 95% IK 1,34-5,72, p=0,005) merupakan faktor risiko terjadinya cSDH yang signifikan. Efek massa dan Glasgow Coma Scale (GCS) yang rendah lebih sering terjadi pada cSDH dengan midline shift (MLS) &gt;5mm.</p> <p><strong>Simpulan</strong>: Adanya cSDH perlu dipertimbangkan pada pasien lansia yang datang dengan onset manifestasi neurologis akut-subakut terutama pasien laki-laki, mengalami penurunan kesadaran dengan atau tanpa defisit fokal, disertai adanya komorbid hipertensi dan gangguan ginjal. Penurunan GCS dan efek massa dapat memperkirakan adanya MLS pada CT-scan kepala.</p> Aurelia Vania, I Komang Arimbawa, Anak Agung Ayu Putri Laksmidewi, Ida Bagus Kusuma Putra, I Wayan Widyantara Copyright (c) 2024 Damianus Journal of Medicine http://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0 https://ejournal.atmajaya.ac.id/index.php/damianus/article/view/5416 Tue, 31 Dec 2024 00:00:00 +0100 Neuromyelitis optica spectrum disorder (NMOSD): Tantangan saat ini https://ejournal.atmajaya.ac.id/index.php/damianus/article/view/3973 <p><strong>Pendahuluan: </strong><em>Neuromyelitis optica spectrum disorder</em> (NMOSD) merupakan kondisi autoimun yang ditandai dengan inflamasi pada nervus optikus, saraf spinal, dan sistem saraf pusat. Meskipun NMOSD memiliki angka prevalensi yang relatif rendah, prognosis visual penyakit ini cukup buruk dan laju relapsnya tinggi. Tinjauan pustaka ini diharapkan dapat mendorong pembaca untuk bisa mendiagnosis secara lebih dini untuk menentukan tatalaksana serangan akut dan mencegah serangan berikutnya sesuai dengan kompetensi kedokteran.</p> <p><strong>Metode</strong>: Artikel ini disusun berdasarkan kepustakaan yang diperoleh dari <em>database </em>Google Scholar, PubMed, dan ProQuest, menggunakan kata kunci “<em>neuromyelitis optica spectrum disorder</em><em>” </em>dari publikasi tahun 2012 sampai dengan tahun 2022.</p> <p><strong>Hasil: </strong>Penyebab NMOSD hingga saat ini masih tidak diketahui dengan pasti, namun diduga disebabkan oleh kondisi sistem imun humoral di dalam tubuh menyerang astrosit. Kriteria diagnosis NMOSD didasarkan pada konsensus yang dikeluarkan oleh <em>International Panel for Neuromyelitis Optica Diagnosis.</em> Myelitis akut, neuritis optik yang berat, muntah dan cegukan berulang merupakan gejala khas pada NMOSD. Lesi myelitis transversal ekstensif longitudinal merupakan penemuan khas pada <em>magnetic resonance imaging </em>(MRI). Tatalaksana NMOSD pada fase akut berupa kortikosteroid dosis tinggi, sedangkan pada fase pemeliharaan berupa imunosupresan. Kejadian relaps ditemukan pada 90% pasien dan komplikasi yang terjadi dapat berupa disabilitas visual, disabilitas motorik, hingga kematian.</p> <p><strong>Simpulan: </strong>Diagnosis NMOSD ditegakkan berdasarkan penemuan klinis, pencitraan, dan laboratorium. Tatalaksana yang tepat dan adekuat berguna untuk mencegah disabilitas dan morbiditas di kemudian hari.</p> Ferdy Iskandar, Florentina Priscilia, Anthea Casey, Mohamad Sidik Copyright (c) 2024 Damianus Journal of Medicine http://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0 https://ejournal.atmajaya.ac.id/index.php/damianus/article/view/3973 Tue, 31 Dec 2024 00:00:00 +0100 Long term side effects of methylphenidate hydrochloride in childhood ADHD in primary care: An evidence-based case report https://ejournal.atmajaya.ac.id/index.php/damianus/article/view/4743 <p><strong>Background:</strong> Attention Deficit Hyperactivity Disorder (ADHD) often emerges in childhood and can persist into adolescence and adulthood. Methylphenidate is the primary medication for managing ADHD in youth, but its long-term effects remain uncertain. Evaluating the evidence on the long-term effects of methylphenidate in children with ADHD is crucial.</p> <p><strong>Case: </strong>A 7-year-old with school difficulties, hyperactivity, and distractibility (Conner's score 22) was diagnosed with ADHD and treated with methylphenidate. Significant behavioral improvement was observed (Conner's score 8), but parental concerns regarding long-term medication use persisted.</p> <p><strong>Metode:</strong> We conducted a structured search in PubMed, EBSCOhost, Cochrane, and SAGE databases, focusing on the past 5 years of English-language human studies with full-text availability. We selected randomized control trials (RCTs), meta-analyses, and systematic reviews and screened them based on relevance to our clinical question. The search yielded results from PubMed (43 articles), EBSCOhost (46 articles), Cochrane (41 articles), and SAGE (125 articles). After rigorous screening, some articles were identified as relevant.</p> <p><strong>Conclusion: </strong>Our case analysis based on evidence revealed that methylphenidate treatment is associated with serious and non-serious side effects, irrespective of treatment duration. Primary care clinicians should exercise caution when prescribing methylphenidate for ADHD management in childhood.</p> Dewanto Andoko, Nicolaski Lumbuun, Darien Alfa Cipta Copyright (c) 2024 Damianus Journal of Medicine http://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0 https://ejournal.atmajaya.ac.id/index.php/damianus/article/view/4743 Tue, 31 Dec 2024 00:00:00 +0100