SUAP DALAM PERSPEKTIF BAHASA DAN BUDAYA SUNDA: KAJIAN TEORI METAFORA KONSEPTUAL DAN LINGUISTIK BUDAYA
DOI:
https://doi.org/10.25170/kolita.v24i24.8547Keywords:
Metafora Konseptual, Linguistik Budaya, Suap, Eufemisme, Budaya SundaAbstract
Dalam masyarakat dengan tingkat kesantunan tinggi seperti Sunda, terjadi paradoks di mana kehalusan budi bahasa sering kali menjadi inkubator bagi normalisasi kejahatan korupsi. Penelitian ini bertujuan untuk mendekonstruksi bagaimana istilah pameuli deudeuh atau cai herang bukan sekadar penghalus kata (eufemisme), melainkan sebuah operasionalisasi skema budaya yang mendistorsi nurani hukum. Metode yang digunakan adalah kualitatif deskriptif dengan paradigma Linguistik Budaya dan Semantik Kognitif. Data primer dikumpulkan melalui wawancara mendalam dan observasi istilah eufemisme dalam kasus korupsi di Jawa Barat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penyuapan di Jawa Barat mengalami kamuflase linguistik melalui mekanisme pemetaan (mapping) kognitif dari domain sumber konkret seperti afeksi (deudeuh) dan konsumsi sosial (kopi) ke domain target transaksi kriminal. Fenomena ini menciptakan disonansi moral massal di mana masyarakat kehilangan daya kritis untuk membedah etika kesantunan (Hade Tata) dengan praktik gratifikasi. Penelitian ini merumuskan bahwa korupsi beroperasi sebagai "penumpang gelap" (free rider) dalam nilai-nilai luhur seperti Silih Asih, sehingga memerlukan strategi dekonstruksi narasi baru berbasis kearifan lokal untuk memperkuat integritas birokrasi.



