REPRESENTASI KOSMOLOGIS ISTILAH SESAJEN DALAM TRADISI LABUH PAPAT DI PANTAI BARON
DOI:
https://doi.org/10.25170/kolita.v24i24.8507Keywords:
etnolinguistik, semiotika, labuh papat, pantai baronAbstract
Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi dan menafsirkan makna istilah-istilah lokal dalam sesajen yang digunakan dalam upacara Sedekah Labuh Papat di Pantai Baron, Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta. Upacara ini merupakan bentuk khas dari tradisi sedekah laut yang masih dijalankan secara rutin oleh masyarakat pesisir sebagai ungkapan syukur dan penghormatan kepada penguasa laut selatan, khususnya Kanjeng Ratu Kidul. Fokus penelitian terletak pada analisis linguistik dan simbolik terhadap istilah dalam sesajen, yang diyakini memiliki nilai spiritual, kosmologis, dan kultural. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan kerangka etnolinguistik dan semiotika. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam, observasi partisipatif, dan dokumentasi lapangan selama prosesi upacara berlangsung. Analisis dilakukan dengan mengidentifikasi istilah ritual dan menginterpretasikan maknanya berdasarkan teori semiotik Charles Sanders Peirce serta prinsip etnolinguistik Nababan. Hasil penelitian menunjukkan adanya lebih dari 15 istilah utama, seperti takir, ubarampe, jolen, ambeng, ingkung ayam, dan labuh papat, yang tidak hanya menunjuk objek, tetapi juga memuat struktur makna yang berlapis. Setiap istilah berfungsi sebagai tanda budaya yang mencerminkan sistem nilai dan relasi spiritual masyarakat pesisir. Simpulan penelitian ini menegaskan bahwa bahasa ritual merupakan bagian integral dari warisan budaya yang perlu dilestarikan melalui dokumentasi ilmiah dan pemahaman simbolik lintas disiplin



