PENAFSIRAN RANGKAIAN BUNYI DALAM BAHASA BIMA SEBAGAI SEBUAH SEGMEN PRANASAL HAMBAT
DOI:
https://doi.org/10.25170/kolita.v24i24.8537Keywords:
penafsiran, rangkaian, bunyi bahasa, segmen, pranasal hambatAbstract
Yang menarik dari penelitian ini untuk dilakukan adalah karena bahasa Bima itu mempunyai keunikan dalam hal rangkaian bunyi, seperti [mb], [mp], [nd], [nt], [nyj], [nyc], [ngg], dan [ngk]. Menurut peneliti terdahulu semua rangkaian bunyi itu dianggap sebagai gugus konsonan atau kluster. Peneliti sendiri tidak sependapat dengan anggapan itu. Berdasarkan pengamatan yang dilakukan, baik di lapangan maupun dari buku-buku penelitian yang sudah ada, ternyata bahasa Bima itu mempunyai rangkaian bunyi pranasal hambat yang begitu lengkap yang belum pernah ditemukan dan ditelaah oleh peneliti sebelumnya. Menurut hemat penulis, adapun bunyi-bunyi bahasa itu, baik dilihat dari cara artikulasi maupun tempat artikulasinya adalah (1) bunyi pranasal hambat bilabial –baik yang bersuara maupun tidak bersuara ([mb], [mp]), (2) bunyi pranasal hambat apiko-alveolar –baik yang bersuara maupun tidak bersuara ([nd], [nt]), (3) bunyi pranasal hambat apiko-palatal –baik yang bersuara maupun tidak bersuara ([nyc], [nyj]), dan (4) bunyi pranasal hambat dorso-velar --baik yang bersuara maupun tidak bersuara ([ngg], [ngk]). Sehubungan dengan hal itu, maka yang menjadi masalah dalam penelitian ini adalah apakah semua rangkaian bunyi bahasa itu merupakan sebuah segmen atau rangkaian segmen (kluster)? Untuk menjawab masalah itu, maka digunakan beberapa metode. Dalam pengumpulan data digunakan metode linguistik lapangan, metode observasi, metode wawancara dibantu dengan teknik perekaman dan pencatatan, dan metode kepustakaan. Sedangkan, dalam menganalis data digunakan metode kualitatif yang bertitik berat pada data yang ditemukan. Dan, dalam penyajian analisis data digunakan metode deskriptif kualitatif. Teori yang digunakan untuk menganalis masalah di atas adalah teori fonologi yang lebih menekankan pada segmen bunyi bahasa khususnya adalah bunyi segmental. Segmen bunyi adalah bunyi bahasa yang membentuk satuan-satuan, seperti kata. Bunyi segmental itu adalah bunyi bahasa yang dapat disegmen-segmenkan dari satuan-satuan bahasa, baik berupa kata, frasa, klausa, maupun kalimat. Segmen bunyi bahasa dapat berupa vokoid dan kontoid. Terdapat empat hal yang harus diperhatikan jika menetapkan suatu rangkaian bunyi bahasa sebagai sebuah segmen atau tidak, yaitu (1) mencari rangkaian bunyi yang mencurigakan sebagai sebuah segmen atau tidak, (2) mencari pola kata yang jelas agar tidak bersifat silabis, (3) menganalisis rangkaian bunyi yang mencurigakan berdasarkan pola kata yang jelas itu, dan (4) secara fonemis mencari kata-kata yang berpasangan mnimal yang mengandung rangkaian bunyi yang dicurigai sebagai sebuah segmen atau tidak. Dan, sebagai temuan baru, bahwa bahasa Bima tidak mengenal vokoid [ә] sehingga tidak mungkin kontoid nasal, trill, dan lateral berubah menjadi suku kata yang baru.Berdasarkan analisis data yang dilakukan, ternyata rangkaian bunyi ([mb], [mp], [nd], [nt], [nyc], [nyj], [ngg], dan [ngk] sebagai sebuah segmen, yaitu [ᵐb], [ᵐp], [ⁿd], [ⁿt], [ᶯʤ], [ᶯʧ]. [ᵑg] dan [ᵑk]. Sebagai contoh: <mbora>*[әmbora] [ᵐbora] ‘menghilang’, <imbi> *[iәmbi] [iᵐbi] ‘percaya’, <mpa> *[әmpa] [ᵐpa] ‘hanya’, <umpu> *[uәmpu] [uᵐpu] ‘siput’, <ndu> *[әndu] [ⁿdu] ‘impian’, <panja> *[paәnyja] [paᶯʤa] ‘pepaya’, <ncimi> *[әnycimi] [ᶯʧimi] ‘tenggelam’, <inca> [iәnyca] [iᶯʧa] ‘termuat’, <nggendi> *[әnggeәndi] [ᵑgeⁿdi] ‘ batu’, <ntara> *[әntara] [ⁿtara] ‘bintang’, <manta> *[maәnta] [maⁿta] ‘puas’, <monggo> *[moәnggo] [moᵑgo] ‘salam’, <mangke> *[maәngke] [maᵑke] ‘menanduk’.



