INTENSITAS EMOSI DAN REGULASI LINGUISTIK DALAM WACANA GAMING ANAK INDONESIA: KAJIAN PSIKOLINGUISTIK PERKEMBANGAN DI MEDIA SOSIAL

Penulis

  • Ahyati Kurniamala Niswariyana Universitas Muhammadiyah Mataram

DOI:

https://doi.org/10.25170/kolita.v24i24.8515

Kata Kunci:

psikolinguistik perkembangan, wacana gaming anak, regulasi emosi, bahasa digital, interaksi sosial

Abstrak

Perkembangan teknologi digital telah mentransformasi lanskap komunikasi anak, terutama melalui keterlibatan mereka dalam aktivitas gaming daring yang terintegrasi dengan platform media sosial seperti TikTok dan YouTube. Dalam ruang ini, anak tidak hanya berperan sebagai pemain, tetapi juga sebagai produsen wacana yang secara aktif mengekspresikan emosi, membangun interaksi sosial, dan membentuk identitas diri dalam konteks yang cepat, kompetitif, dan terbuka. Wacana gaming anak menunjukkan karakteristik kebahasaan yang khas, khususnya dalam hal tingginya intensitas emosi dan penggunaan strategi linguistik yang adaptif. Namun, kajian yang menempatkan fenomena ini dalam perspektif psikolinguistik perkembangan masih terbatas, karena sebagian besar penelitian lebih menyoroti aspek toksisitas atau perilaku agresif. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk menganalisis representasi linguistik intensitas emosi dan regulasi diri dalam wacana gaming anak Indonesia di media sosial, serta keterkaitannya dengan perkembangan kognitif dan sosial anak. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif-deskriptif dengan kerangka psikolinguistik perkembangan. Data berupa tuturan verbal anak yang diperoleh dari konten gaming yang dipublikasikan secara terbuka di TikTok dan YouTube, meliputi siaran langsung, video pendek, dan komentar interaktif. Data dikumpulkan melalui observasi non-partisipatif dan dokumentasi digital, kemudian ditranskripsikan dengan mempertahankan ciri kebahasaan aslinya. Analisis dilakukan melalui reduksi data, kategorisasi emosi (kemarahan, frustrasi, kegembiraan, keheranan, dan solidaritas), identifikasi fitur linguistik seperti leksikon afektif, intensifier, repetisi, hiperbola, bentuk imperatif, serta struktur sintaktis, dan diinterpretasikan dalam kerangka psikolinguistik perkembangan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa wacana gaming anak ditandai oleh tingginya intensitas leksikal dan pragmatik melalui penggunaan kosakata emosional yang diperkuat intensifier, serta strategi repetisi dan hiperbola sebagai bentuk amplifikasi makna. Bahasa juga berfungsi sebagai mekanisme regulasi emosi, baik melalui self-talk sebagai kontrol internal maupun melalui interaksi sosial kolektif dalam tim. Dari sisi kognitif, ditemukan kecenderungan simplifikasi sintaksis berupa klausa pendek dan elipsis yang menunjukkan adaptasi terhadap beban kognitif tinggi. Selain itu, penggunaan sapaan kolektif, bahasa gaul, humor, dan ejekan ringan menunjukkan fungsi bahasa dalam membangun identitas sosial dan solidaritas kelompok. Dengan demikian, intensitas bahasa dalam wacana gaming anak tidak semata-mata mencerminkan agresi verbal, melainkan strategi adaptif yang mengintegrasikan emosi, kognisi, dan interaksi sosial dalam lingkungan digital.

Diterbitkan

2026-10-22