BERBICARA SECARA PROFESIONAL, BERTUTUR DENGAN SANTUN: KAJIAN PRAGMATIK TENTANG KESANTUNAN BERBASIS GENDER DALAM WAWANCARA KERJA
DOI:
https://doi.org/10.25170/kolita.v24i24.8517Kata Kunci:
kesantunan positif, pragmatik, gender dan bahasa, wawancara kerja, wacana profesionalAbstrak
Wawancara kerja profesional merupakan bentuk wacana institusional yang bersifat asimetris karena menempatkan kandidat sebagai pihak yang harus mempresentasikan kompetensi diri sekaligus menjaga hubungan interpersonal dengan pewawancara. Dalam konteks tersebut, strategi kesantunan positif berfungsi sebagai sumber daya pragmatik yang memungkinkan kandidat mempromosikan diri tanpa menimbulkan ancaman terhadap muka pihak lain. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji perbedaan penggunaan strategi kesantunan positif antara kandidat perempuan dan kandidat laki-laki dalam wawancara kerja profesional. Penelitian ini menggunakan pendekatan pragmatik dengan metode kualitatif deskriptif. Sumber data penelitian berupa enam transkripsi wawancara kerja autentik yang melibatkan tiga kandidat perempuan dan tiga kandidat laki-laki yang mengikuti proses rekrutmen pada sektor layanan profesional. Data dikumpulkan melalui teknik dokumentasi terhadap rekaman wawancara dan dianalisis dengan mengidentifikasi tuturan-tuturan yang berfungsi sebagai promosi diri. Selanjutnya, tuturan tersebut diklasifikasikan berdasarkan subjenis strategi kesantunan positif menurut kerangka teori Brown dan Levinson. Setelah memperoleh hasil identifikasi dan klasifikasi, data dianalisis dengan teknik padan pragmatik. Analisis komparatif kemudian dilakukan untuk mengungkap kecenderungan penggunaan strategi kesantunan berdasarkan perbedaan gender antara kandidat perempuan dan laki-laki. Hasil penelitian menunjukkan adanya perbedaan pola strategi kesantunan positif antara kandidat perempuan dan laki-laki. Kandidat perempuan cenderung lebih dominan menggunakan strategi kesantunan positif yang berorientasi pada penciptaan solidaritas, seperti menekankan kerja sama, menunjukkan empati, serta memitigasi klaim keunggulan diri melalui kerendahan hati dan pengakuan terhadap keterbatasan pribadi. Sebaliknya, kandidat laki-laki lebih sering menggunakan strategi kesantunan positif yang menekankan penegasan identitas profesional, klaim kesamaan tujuan dengan institusi, serta penyampaian kompetensi secara langsung dan eksplisit. Perbedaan ini menunjukkan bahwa gender memengaruhi cara kandidat menegosiasikan muka positif dalam interaksi wawancara kerja. Penelitian ini memberikan kontribusi teoretis terhadap kajian pragmatik dan bahasa berbasis gender dengan memperluas pemahaman mengenai fungsi kesantunan positif dalam wacana profesional. Selain itu, penelitian ini juga memiliki implikasi praktis bagi pelatihan wawancara kerja dan praktik rekrutmen agar lebih peka terhadap variasi gaya komunikasi kandidat.



