KAJIAN TOPONIMI DESA BERBASIS FOLKLOR DI KECAMATAN WEDI, KABUPATEN KLATEN
DOI:
https://doi.org/10.25170/kolita.v24i24.8518Kata Kunci:
etnolinguistik, toponimi, folklor, asal-usul nama desa, Kecamatan WediAbstrak
Penelitian ini mendiskusikan asal-usul nama desa di Kecamatan Wedi, Kabupaten Klaten dalam ruang lingkup kajian folklor. Folklor mempunyai peranan penting karena mengandung makna historis dan kultural yang melekat dalam masyarakat. Penelitian toponimi berbasis folklor menjadi salah satu pelestarian kebudayaan yang penting ketika ingatan kolektif masyarakat mengenai kebudayaan mulai tergerus oleh modernisasi. Untuk itu, fokus penelitian ini adalah desa-desa yang penamaannya memiliki latar belakang cerita rakyat yang diwariskan secara lisan oleh masyarakat setempat. Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif (Creswell, 2014) dengan data berupa cerita lisan dari informan serta dokumentasi pendukung. Data dikumpulkan melalui wawancara, pencatatan, dan studi literatur, dengan teknik purposive sampling terhadap nama-nama desa yang mengandung unsur folklor. Dari 19 desa di Kecamatan Wedi, ditemukan sepuluh desa yang memiliki latar belakang folklor, yaitu Birit, Gadungan, Melikan, Pasung, Sembung, Pesu, Jiwowetan, Trotok, Tanjungan, dan Kadibolo. Analisis data mengacu pada teori folklor (Danandjaja, 1986) dan tipologi toponimi (Blair & Tent, 2021). Hasil penelitian menunjukkan bahwa penamaan desa berkaitan dengan tokoh, mitos, legenda, serta peristiwa yang berkembang dalam ingatan kolektif masyarakat. Dari sepuluh data, lima termasuk kategori dongeng, satu mitos, dan empat legenda. Berdasarkan tipologi toponimi, penamaan didominasi oleh kategori eponymous (lima data), diikuti occurrent (empat data), dan innovative (satu data). Temuan ini menunjukkan bahwa toponimi di Kecamatan Wedi cenderung berorientasi pada figur yang memiliki pengaruh dalam masyarakat. Oleh karena itu, penelitian ini diharapkan dapat memperkaya kajian hubungan folklor dan toponimi desa di Kecamatan Wedi sebagai representasi dimensi historis, sosial, dan kultural yang masih terpelihara dalam tradisi lisan masyarakat, serta mendukung upaya pelestarian budaya lokal melalui dokumentasi asal-usul nama desa.



