REPRESENTASI RELASI MASYARAKAT ADAT DAN LINGKUNGAN DALAM DALAM PUSPARAGAM TAMRAU: PENDEKATAN EKOPRAGMATIK BUDAYA

Penulis

  • Darsita Suparno Universitas Islam Nageri Syarif Hidayatullah
  • Ita Fitriana Universitas Jendral Soedirman

DOI:

https://doi.org/10.25170/kolita.v24i24.8525

Kata Kunci:

ekopragmatik budaya, masyarakat adat, pusparagam hayati, wacana media, ekolinguistik

Abstrak

Penelitian ini mengkaji relasi ekopragmatik antara masyarakat adat dan pusparagam hayati di Kabupaten Tambrauw, Papua Barat Daya, melalui analisis wacana ekologis budaya yang direpresentasikan dalam majalah National Geographic Indonesia serta berbagai platform media digital. Latar belakang penelitian ini berangkat dari meningkatnya peran media populer ilmiah dalam membingkai praktik konservasi masyarakat adat sekaligus membentuk persepsi publik tentang relasi manusia dan lingkungan di Papua. Tujuan penelitian ini adalah mengungkap pola rujukan terhadap flora, fauna, dan lanskap hutan diproduksi sebagai tindakan komunikatif bermuatan nilai budaya, serta cara representasi tersebut mengonstruksi etika lingkungan, otoritas adat, dan orientasi konservasi kolektif. Secara teoretis, penelitian ini memosisikan ekolinguistik sebagai payung konseptual dengan mengoperasionalkan pendekatan ekopragmatik melalui konsep pragmeme Alessandro Capone serta kerangka artikulasi tiga lapis Wong. Metode penelitian bersifat kualitatif dengan teknik pengumpulan data berupa pembacaan cermat (close reading), seleksi korpus teks, dan dokumentasi multimodal terhadap artikel, narasi visual, kutipan tutur, serta rekaman video yang dimuat dalam National Geographic edisi Januari 2026 dan unggahan media digital terkait Tambrauw. Prosedur analisis mengintegrasikan teori tindak tutur, pragmeme, dan ekolinguistik untuk mengidentifikasi fungsi ilokusi, skrip budaya, serta konfigurasi situasional yang membentuk ujaran ekologis dalam teks media. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rujukan terhadap burung endemik, tumbuhan hutan, satwa liar, dan wilayah adat beroperasi pada tiga dimensi yang saling terkait, yaitu ekologis (karakteristik spesies dan habitat), budaya-simbolik (tanah leluhur, identitas kolektif, dan norma pemanfaatan alam), serta linguistik-estetis (metafora, repetisi, dan strategi tidak langsung). Pola-pola tersebut membentuk eko-pragmeme yang berfungsi untuk mengkritik aktivitas ekstraktif, menegaskan legitimasi hukum adat, serta membingkai masyarakat lokal sebagai agen konservasi. Penelitian ini menyimpulkan bahwa representasi media tentang Tambrauw tidak hanya merekam praktik ekologis masyarakat adat, tetapi juga berperan sebagai arsip diskursif pengetahuan lingkungan dan sarana penyebaran nilai konservasi kepada audiens yang lebih luas, sekaligus memperluas kontribusi teoretis pragmeme dalam konteks biodiversitas dan memperkaya kajian ekolinguistik mengenai fungsi bahasa dalam konservasi, kohesi sosial, dan ketahanan budaya.

Diterbitkan

2026-10-22