(BER)SILATURAHMI: NEGOSIASI KOMUNITAS, OTORITAS, DAN KEANGGOTAAN DALAM PRAKTIK WACANA DI INDONESIA
DOI:
https://doi.org/10.25170/kolita.v24i24.8527Kata Kunci:
silaturahmi, negosiasi, komunitas, otoritas, praktik wacanaAbstrak
Penelitian ini mengeksplorasi bagaimana silaturahmi sebagai konsep budaya sentral di Indonesia yang menekankan harmoni relasional, kunjungan timbal balik, dan kohesi sosial, secara diskursif diaktualisasikan dan secara strategis direkontekstualisasikan dalam pembicaraan institusional. Berakar pada tradisi Islam dan tertanam dalam kehidupan sosial Indonesia, silaturahmi telah lama dipahami sebagai kewajiban moral yang mempertahankan ikatan komunal dan identitas kolektif. Namun, makalah ini menunjukkan bahwa silaturahmi kini berfungsi sebagai sumber diskursus yang dinamis, terutama dalam konteks birokrasi, di mana ia dapat menandakan kepatuhan simbolis, diplomasi relasional, atau navigasi terhadap hierarki institusional. Dengan menggunakan pendekatan analisis percakapan (Sidnell & Enfield, 2022), pragmatik budaya (Wang & Kádár, 2023), dan analisis wacana kritis (Wodak & Meyer, 2023), penelitian ini menganalisis 18 wawancara semi-terstruktur yang direkam secara audio tentang inisiatif masyarakat, program keterlibatan komunitas, dan kolaborasi antarorganisasi dengan pejabat pemerintah (Pemda) dan aktivis LSM (LSM) di Jombang, Jawa Timur. Wawancara ini dilakukan di bulan Juli 2025, masing-masing berdurasi 45–90 menit, dan ditranskripsikan dengan menggunakan konvensi Jefferson. Hasilnya menunjukkan tiga pola konsep silaturahmi yang berbeda. Dalam konteks birokrasi, pejabat membedakan antara modus keterlibatan formal dan kekeluargaan (familial), menggunakan pertemuan timbal balik untuk membangun kepercayaan (trust), dan kesesuaian (alignment) dengan mempertahankan evaluasi kondisional terhadap kemitraan. Di lembaga berbasis agama (pesantren), akses memerlukan sowan (kunjungan) kepada pemimpin agama yang bertindak sebagai perantara antara program eksternal dan otoritas agama. Dalam forum sipil, duduk bersama memfasilitasi negosiasi di mana LSM menawarkan dan pejabat menyambut (menerima) tawaran kemitraan dengan tetap mempertahankan batas-batas institusional. Meskipun silaturahmi terus membangun identitas moral dan hubungan institusional, responden secara strategis menggunakan konsep ini untuk menavigasi ketegangan antara formalitas birokrasi dan harapan komunitas, bahkan seringkali mengubah pertemuan informal menjadi kerja relasional yang formal. Studi ini berkontribusi pada pemahaman bagaimana konsep-konsep yang tertanam dalam budaya berkembang di bawah tekanan organisasi kontemporer, menunjukkan bahwa nilai-nilai tradisional mengalami refungsionalisasi pragmatis dalam diskursus publik Indonesia modern. Studi ini memperluas pendekatan analisis percakapan dengan memberikan wawasan kritis tentang bahasa, kekuasaan, dan perubahan sosial dalam konteks Asia Tenggara pasca-kolonial.



