EKOLOGI BAHASA, KETAHANAN BAHASA, DAN VARIASI BAHASA: STUDI KASUS NDOM [NQM] DAN RIANTANA [RAN] DI PAPUA SELATAN
DOI:
https://doi.org/10.25170/kolita.v24i24.8543Kata Kunci:
ekologi bahasa, ketahanan bahasa, variasi bahasa, sosiolinguistik, EGIDSAbstrak
Makalah ini membahas hubungan antara ekologi bahasa, ketahanan bahasa, dan variasi bahasa pada dua bahasa yang berbeda, yaitu bahasa Ndom (Imuer) [nqm] dan bahasa Riantana [ran] di Papua Selatan. Kedua bahasa ini tidak saling dapat dipahami dan memiliki sistem linguistik yang berbeda, namun menunjukkan tingkat ketahanan yang relatif mirip. Penelitian ini bertujuan menjawab pertanyaan: Bagaimana perbedaan kondisi ekologi bahasa membentuk ketahanan dan pola variasi internal pada bahasa Ndom (Imuer) dan bahasa Riantana di Papua Selatan? Data diperoleh melalui penelitian lapangan yang dilaksanakan pada Oktober 2024 di kedua komunitas bahasa tersebut, menggunakan diskusi partisipatoris dengan metode pemetaan dialek dan asesmen ketahanan bahasa berbasis komunitas yang mencakup transmisi antargenerasi serta penggunaan bahasa dalam berbagai ranah. Hasil menunjukkan bahwa masing-masing bahasa memiliki satu dialek utama dengan beberapa variasi logat internal yang tetap berada dalam tingkat saling mengerti yang tinggi. Penilaian komunitas menempatkan kedua bahasa pada tingkat EGIDS 6a (kuat), berbeda dari klasifikasi sebelumnya yang menyatakan 6b (terancam). Meskipun demikian, kondisi ekologi kedua komunitas menunjukkan perbedaan yang signifikan: bahasa Ndom (Imuer) digunakan dalam konteks yang relatif terisolasi sehingga transmisi antargenerasi berlangsung kuat dan bahasa daerah tetap dominan dalam komunikasi sehari-hari, sedangkan penutur bahasa Riantana yang menjadi partisipan penelitian merupakan komunitas yang telah bermigrasi ke pusat distrik sehingga menghasilkan distribusi fungsi bahasa yang lebih jelas antara ranah keluarga dan ranah publik. Temuan ini menunjukkan bahwa tingkat ketahanan bahasa yang konsisten dapat terbentuk melalui dinamika ekologi yang berbeda, sehingga analisis ketahanan bahasa perlu mempertimbangkan konteks sosiolinguistik secara spesifik, bukan hanya pada aspek transmisi antargenerasi semata.



