RELASI KUASA DAN SIMBOLISME STATUS SOSIAL DALAM LEKSIKON TENUN SABU: KAJIAN LINGUISTIK KEBUDAYAAN
DOI:
https://doi.org/10.25170/kolita.v24i24.8548Kata Kunci:
leksikon, tenun Sabu, relasi kuasa, status sosial, linguistik kebudayaan, etnolinguistikAbstrak
Penelitian ini berawal dari sebuah pertanyaan yang timbul di lapangan dan berlanjut sesudah peneliti pulang. Pertanyaannya yakni mengapa sejumlah motif tenun di masyarakat Sabu (Raijua) Nusa Tenggara Timur dilarang untuk disebutkan, apalagi dikenakan? Pertanyaan ini mendorong para peneliti untuk melakukan kajian yang jauh lebih kompleks daripada yang mereka perkirakan. Data terkumpul langsung di Kabupaten Sabu Raijua melalui pendekatan etnolinguistik beserta metode deskriptif kualitatif. Wawancara mendalam kemudian dilakukan oleh peneliti bersama penenun senior, pemangku adat, dan tokoh budaya. Observasi juga dilakukan secara langsung di lokasi tenun. Temuan memperlihatkan bahwasanya leksikon motif seperti Worapi, Kelila, beserta Ei Lejo lebih dari sekadar penanda visual. Lebih jauh lagi, leksikon ini dijadikan sistem identitas sosial yang diatur ketat oleh hukum adat. Pengaturannya menurut sistem Hubi dan Wini selaku dua struktur utama dalam tatanan matrilineal Sabu. Terdapat temuan tak terduga lainnya. Temuannya yakni tingkat leksikon tersebut berkorelasi erat dengan tingkat hierarki sosial. Dan mungkin yang paling mengejutkan, leksikon tenun Sabu berhasil bertahan. Meskipun ditemukan bahwa laju perubahan yang cepat terus mengikis banyak hal. Leksikon ini masih digunakan hingga kini dan terus dijadikan salah satu cara utama masyarakat Sabu untuk memahami diri mereka sendiri.



