DARI MORFEM KE MASYARAKAT: STRUKTUR BAHASA DAN STRATIFIKASI SOSIAL DALAM TOPONIM LOMBOK TENGAH
DOI:
https://doi.org/10.25170/kolita.v24i24.8549Kata Kunci:
Toponimi, Sosiolinguistik, Struktur Morfologis, Stratifikasi Sosial, Kekuasaan Simbolik, Budaya SasakAbstrak
Toponim tidak dapat dipahami semata-mata sebagai penanda geografis yang bersifat administratif, melainkan sebagai konstruksi simbolik yang merepresentasikan sekaligus mereproduksi dinamika sosial, historis, dan kultural masyarakat. Dalam kerangka linguistik struktural, hubungan antara penanda dan petanda dianggap bersifat arbitrer. Namun, dalam praktik penamaan ruang, khususnya pada toponim desa dan kelurahan, hubungan tersebut sering kali menunjukkan tingkat motivasi sosial dan kultural yang tinggi. Berangkat dari ketegangan teoretis tersebut, penelitian ini bertujuan untuk menganalisis relasi antara struktur morfologi bahasa dan stratifikasi sosial dalam toponim desa dan kelurahan di Kabupaten Lombok Tengah. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain deskriptif-interpretatif. Data berupa nama desa dan kelurahan diperoleh melalui studi dokumentasi, wawancara dengan informan kunci, dan observasi kontekstual. Analisis dilakukan secara bertahap, meliputi analisis morfologis untuk mengidentifikasi pola pembentukan kata, analisis semantik untuk mengklasifikasikan domain makna, serta analisis sosial untuk menafsirkan hubungan antara toponim dan struktur stratifikasi sosial masyarakat. Pendekatan ini dipadukan dengan perspektif sosiolinguistik, teori stratifikasi sosial Weber, serta konsep kekuasaan simbolik Bourdieu dalam kerangka critical toponymy. Hasil penelitian menunjukkan bahwa struktur morfologis toponim didominasi oleh proses komposisi, yang mencerminkan strategi deskriptif-relasional dalam mengonstruksi ruang. Dari sisi semantik, toponim mencakup domain ekologis, sosial, historis, kultural, geografis, dan tokoh, dengan dominasi kategori ekologis yang menunjukkan kuatnya relasi manusia dengan lingkungan. Namun, analisis lebih lanjut memperlihatkan bahwa toponim tidak hanya merepresentasikan kondisi ekologis, tetapi juga mengandung dimensi sosial dan ideologis yang berkaitan dengan distribusi sumber daya, memori kolektif, dan legitimasi otoritas. Secara teoretis, temuan ini menegaskan bahwa toponim berfungsi sebagai instrumen legitimasi simbolik yang mencerminkan sekaligus mereproduksi stratifikasi sosial. Dalam perspektif Weberian, toponim dapat dibaca sebagai representasi distribusi kehormatan (status order), sementara dalam kerangka Bourdieu, penamaan ruang merupakan praktik kekuasaan simbolik yang menormalisasi struktur sosial. Dengan demikian, toponim lebih tepat dipahami sebagai motivated sign yang dibentuk oleh kepentingan sosial, sejarah, dan kultural, sekaligus sebagai arsip sosial yang hidup dalam lanskap masyarakat. Penelitian ini berkontribusi pada pengembangan studi toponimi interdisipliner dengan menunjukkan bahwa analisis linguistik terhadap nama tempat tidak dapat dipisahkan dari pembacaan sosial yang lebih luas.



