SKEMA RETORIKA DAN REPRESENTASI KEPEMIMPINAN DALAM PIDATO KAMPANYE AKBAR TIGA CALON PRESIDEN INDONESIA

Penulis

  • Raviqa Raviqa Universitas Hasanuddin
  • Muhammad Darwis Universitas Hasanuddin
  • Nurhayati Nurhayati Universitas Hasanuddin
  • Muhammad Hasyim Universitas Hasanuddin

DOI:

https://doi.org/10.25170/kolita.v24i24.8566

Kata Kunci:

skema retorika, pidato kampanye akbar, representasi kepemimpinan, calon presiden, Pemilu 2024

Abstrak

Penelitian ini mengkaji skema retorika dalam pidato kampanye akbar tiga calon presiden Indonesia pada Pemilihan Umum 2024, yaitu Anies Baswedan, Prabowo Subianto, dan Ganjar Pranowo. Tujuan penelitian adalah (1) mengidentifikasi pola penggunaan skema retorika pada setiap kandidat, (2) menganalisis fungsi skema dalam membangun representasi kepemimpinan, dan (3) membandingkan pola dominan skema antarkandidat. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain deskriptif-interpretatif-komparatif. Data berupa transkripsi verbatim pidato kampanye akbar: Anies Baswedan di Jakarta International Stadium (10 Februari 2024), Prabowo Subianto di Gelora Bung Karno (10 Februari 2024), dan Ganjar Pranowo di Gelora Bung Karno (3 Februari 2024). Analisis menggunakan taksonomi skema Corbett (1996) dan kerangka fungsi argumentatif Fahnestock (1999, 2011). Hasil penelitian menunjukkan bahwa anafora adalah skema yang paling banyak digunakan oleh ketiga kandidat—Anies (74,3%, n=35), Ganjar (68,8%, n=16), dan Prabowo (62,5%, n=24)—namun cara penggunaannya berbeda secara mendasar. Anies menggunakan anafora dengan pola penyangkalan yang selalu diikuti penegasan (normatif-berpasangan) untuk membangun representasi kepemimpinan yang bersifat etis dan deliberatif. Prabowo menggunakan anafora yang berfokus pada larangan dan kewajiban kolektif (larangan-normatif) untuk membangun representasi kepemimpinan yang otoritatif dan protektif. Ganjar menggunakan anafora yang bertumpu pada bukti tindakan nyata (kolektif-empatik) untuk membangun representasi kepemimpinan yang testimonial dan partisipatif. Di antara ketiga kandidat, Anies Baswedan menunjukkan penggunaan skema yang paling ketat: ia menghasilkan data skema terbanyak (n=35), menggunakan subtype anafora yang paling beragam, merupakan satu-satunya kandidat yang menggunakan antitesis secara konsisten dan berulang (n=3) sebagai strategi polarisasi nilai, serta paling sering menggabungkan dua skema dalam satu unit data—yang menunjukkan bahwa setiap klausanya dirancang untuk bekerja pada lebih dari satu dimensi retorika sekaligus. Temuan ini membuktikan bahwa skema retorika bukan sekadar hiasan bahasa, melainkan perangkat argumentatif yang secara langsung membentuk representasi kepemimpinan yang berbeda pada masing-masing kandidat.

Diterbitkan

2026-10-22