PARODI DAN HUMOR BAHASA DALAM PENYATUAN IDENTITAS ASIA TENGGARA DALAM PERANG KOMENTAR DENGAN WARGANET KOREA SELATAN
DOI:
https://doi.org/10.25170/kolita.v24i24.8577Kata Kunci:
Humor, Indexical Order, identitas, parodi, Asia TenggaraAbstrak
Penelitian ini mengkaji praktik kebahasaan yang digunakan oleh warganet Asia Tenggara dalam “perang komentar” lintas negara dengan warganet Korea Selatan baru-baru ini, dengan fokus pada bagaimana humor dan parodi berfungsi sebagai alat konstruksi identitas dan solidaritas regional. Dengan berpijak pada teori identitas sosial (Tajfel & Turner, 1979), analisis wacana kritis (Fairclough, 1995), konsep indeksikalitas dalam Sosiolinguistik (Silverstein, 2023), serta teori humor dan parodi bahasa (Gruner, 1997) dan (Wijana, 2004), studi ini memposisikan ruang komentar sebagai arena kerja identitas yang bersifat performatif. Tujuan penelitian ini adalah:
(1) mengidentifikasi fitur-fitur linguistik, alih kode, campur kode, stilisasi, serta intertekstualitas berbasis meme yang digunakan oleh warganet Asia Tenggara; (2) menganalisis bagaimana humor dan parodi menguatkan identitas dan kohesi kelompok; dan (3) menelaah bagaimana praktik tersebut berkontribusi pada konstruksi diskursif identitas pan-ASEAN. Data dikumpulkan dari teks elektronik terkurasi 60 komentar publik yang dikumpulkan dari media sosial X pada puncak intensitas interaksi daring. Teks komentar bersifat multibahasa (Indonesia, Melayu, dan Inggris), dengan transliterasi selektif jika diperlukan. Secara metodologis, penelitian ini menggabungkan analisis indeksikal komentar warganet Asia Tenggara dan analisis wacana kritis terkait konstruksi identitas. Analisis berfokus pada kosakata, cara menuliskan kosakata, dan penggunaan gaya bahasa humor yang menjadi penanda indeksikal sekaligus peneguh identitas in-group. Temuan menunjukkan bahwa gaya bahasa humor yang paling sering muncul berupa satire, sarkasme, dan permainan kata. Humor muncul sebagai ekspresi ketidaksesuaian, keunggulan, dan melepaskan ketegangan. Ditemukan bahwa komentar-komentar warganet Asia Tenggara berfungsi membingkai ulang permusuhan menjadi rivalitas yang bersifat main-main. Terdapat ekspresi sarkasme dan parodi terhadap budaya pop Korea dan ironisasi stereotip diri Asia Tenggara. Alih-alih terfragmentasi secara regional, warganet Asia Tenggara justru memobilisasi referensi budaya bersama, pronomina kolektif, dan tagar regional #SEAblings, sehingga mengonstruksi “ke-ASEAN-an” sebagai identitas supranasional yang menonjol. Studi ini menemukan bahwa sikap permusuhan di dunia maya secara paradoksal justru menumbuhkan solidaritas dan rasa persatuan: melalui performansi multibahasa yang humoris, warganet Asia Tenggara mentransformasikan konflik menjadi arena diskursif untuk menegosiasikan regional sense of belonging dan mengartikulasikan identitas kolektif di ruang publik digital.



