Provinsi Nusa Tenggara Timur: Analisis Risiko Bencana dalam Pengembangan Wilayah dengan Pendekatan Z-Score

Authors

  • Eleonora Fatima Joao Martins Universitas Gadjah Mada

DOI:

https://doi.org/10.25170/perkotaan.v18i1.7467

Keywords:

ketahanan wilayah, Nusa Tenggara Timur, pengembangan wilayah, pengurangan risiko bencana, tipologi risiko

Abstract

Provinsi Nusa Tenggara Timur merupakan wilayah dengan karakteristik geografis dan klimatologis yang kompleks serta tingkat kerentanan bencana yang tinggi. Namun, integrasi antara analisis risiko bencana dan pengembangan wilayah masih belum dilakukan secara menyeluruh dalam perencanaan pembangunan daerah. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji keterkaitan antara tingkat risiko bencana dan tingkat perkembangan wilayah serta merumuskan prioritas kebijakan pembangunan yang terintegrasi dengan upaya pengurangan risiko bencana (PRB). Metode penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan analisis data sekunder. Tingkat perkembangan wilayah diukur menggunakan teknik Z-Score terhadap indikator Produk Domestik Regional Bruto (PDRB), Indeks Pembangunan Manusia (IPM), tingkat kemiskinan, dan Indeks Daya Saing Daerah (IDSD) tanpa penerapan pembobotan antarindikator (equal weighting). Sementara, risiko bencana dianalisis berdasarkan komponen ancaman, kerentanan, dan kapasitas, kemudian diklasifikasikan ke dalam kategori rendah, sedang, dan tinggi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar kabupaten/kota berada pada kategori risiko rendah hingga sedang, dengan beberapa wilayah seperti Kabupaten Ende dan Timor Tengah Selatan tergolong berisiko tinggi. Di sisi lain, tingkat perkembangan wilayah masih menunjukkan ketimpangan yang signifikan, di mana sebagian besar wilayah berada dalam kategori tertinggal. Analisis keterkaitan menunjukkan bahwa hubungan antara risiko bencana dan perkembangan wilayah tidak bersifat linier, di mana wilayah dengan tingkat perkembangan tinggi tidak selalu memiliki risiko yang rendah, dan sebaliknya. Berdasarkan analisis tipologi, dirumuskan tiga prioritas kebijakan, yaitu wilayah dengan risiko rendah dan perkembangan tinggi difokuskan pada keberlanjutan pembangunan, wilayah dengan risiko sedang dan perkembangan sedang memerlukan keseimbangan antara mitigasi bencana dan penguatan pembangunan, serta  wilayah dengan risiko tinggi memerlukan intervensi intensif melalui penguatan kapasitas, pembangunan infrastruktur, dan pengurangan kerentanan.

References

[1] BPS Provinsi Nusa Tenggara Timur. (2023). Nusa Tenggara Timur dalam Angka 2023. Kupang: Badan Pusat Statistik.https://ntt.bps.go.id/id

[2] RPJMD Provinsi Nusa Tenggara Timur. (2021). Provinsi Nusa Tenggara Timur 2018–2023. Provinsi Nusa Tenggara Timur. https://nttprov.go.id

[3] BNPB. (2022). Data dan Informasi Bencana Indonesia (DIBI). Jakarta: Badan Nasional Penanggulangan Bencana. https://inarisk.bnpb.go.id.

[4] UNDRR. (2015). Sendai Framework for Disaster Risk Reduction 2015–2030. https://www.undrr.org/publication/sendai-framework-disaster-risk-reduction-2015-2030

[5] Cardona, O. D. (2013). Holistic disaster risk conceptual framework. Environmental Hazards, 12(1), 1–10. https://www.researchgate.net.

[6] Blaikie, Piers., Cannon, Terry., Davis, Ian., Wisner, Ben. (2014). At Risk: Natural Hazards, People’s Vulnerability and Disasters. Environment and Sustainability, Geography, Global Development https://www.taylorfrancis.com

[7] United Nations. (2017). Sustainable Development Goals Report. https://unstats.un.org.

[8] Peraturan Daerah Provinsi NTT Nomor 16 Tahun 2008 tentang Penyelenggaraan Penanggulangan Bencana.

[9] Peraturan Gubernur NTT Nomor 92 Tahun 2021 tentang Pelaksanaan Penanggulangan Bencana.

[10] Peraturan Gubernur NTT Nomor 42 Tahun 2023 tentang Kajian Risiko Bencana Provinsi NTT.

[11] BNPB. (2021). Indeks Risiko Bencana Indonesia. Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Kebencanaan Badan Nasional Penanggulangan Bencana

[12] Cutter, S. L., Ash, K. D., & Emrich, C. T. (2016). Urban–rural differences in disaster resilience. Annals of the American Association of Geographers, 106(6), 1236–1255. DOI: 10.1080/24694452.2016.1194740

[13] Rufat, S., Tate, E., Burton, C., & Maroof, A. (2015). Social vulnerability to floods: Review of case studies and implications for measurement. International Journal of Disaster Risk Reduction. 14, 470–486. https://doi.org/10.1016/j.ijdrr.2015.09.013

[14] Thomalla F, Boyland M, Johnson K, Ensor J, Tuhkanen H, Gerger Swartling A, et al. (2018). Transforming development and disaster risk. Sustainability;10:1458. https://doi.org/10.3390/su10051458

[15] Koks, E. E., B. Jongman, T.G. Husby, W.J.W. Botzen. (2015). Combining hazard, exposure and social vulnerability to provide lessons for flood risk management. Environmental Science & Policy, 47, 42–52.https://research.vu.

[16] BRIN (Badan Riset dan Inovasi Nasional). (2024). Indeks Daya Saing Daerah 2023. Deputi Bidang Kebijakan Riset dan Inovasi.

[17] Twigg, J. (2015). Disaster Risk Reduction: Mitigation and Preparedness in Development and Emergency Programming. Humanitarian Practice Network, London.https://odihpn.org.

[18] BMKG. (2022). Analisis Iklim Regional Nusa Tenggara Timur. Jakarta: BMKG.

[19] Nicholson, S. E. (2017). Climate and climatic variability of rainfall over eastern Africa. Reviews of Geophysics, 55(3), 590–635. https://doi.org/10.1002/2016RG000544

[20] Mohammed, Ruqayah Kadhim., Scholz, Miklas. (2019). Climate Variability Impact on the Spatiotemporal Characteristics of Drought and Aridityin Arid and Semi-Arid Regions. Environmental Science & Policy, 89, 10–18. https://www.researchgate.

[21] Badan Pusat Statistik Provinsi Nusa Tenggara Timur (2021). Nusa Tenggara Timur dalam Angka 2023. Kupang: Badan Pusat Statistik. https://ntt.bps.go.id/id

[22] UNDRR. (2019). Global Assessment Report on Disaster Risk Reduction. United Nations Office for Disaster Risk Reduction. https://www.undrr.org

[23] Fatemi, F., Ardalan, A., Aguirre, B., Mansouri, N., & Mohammadfam, I. (2017). Social vulnerability indicators in disasters: Findings from a systematic review. International Journal of Disaster Risk Reduction, 22, 219–227. https://doi.org/10.1016/j.ijdrr.2016.09.006

[24] Birkmann, J., et al. (2016). Boost resilience of small and mid-sized cities. Nature, 540, 27–29.https://www.researchgate.ne.

[25] Cardona, O. D. (2003). The Need for Rethinking the Concepts of Vulnerability and Risk from a Holistic Perspective: A Necessary Review and Criticism for Effective Risk Management. In Mapping Vulnerability: Disasters, Development and People. Earthscan. https://www.researchgate.net

[26] OECD. (2008). Handbook on Constructing Composite Indicators: Methodology and User Guide. Paris: OECD Publishing.

[27] F. Booysen. (2002). An overview and evaluation of composite indices of development. Social Indicators Research, vol. 59, no. 2, pp. 115–151.

[28] M. Nardo et al. (2008). Handbook on Constructing Composite Indicators: Methodology and User Guide. Paris: OECD.

Downloads

Published

30-06-2026

Issue

Section

Original Articles

How to Cite

[1]
E. F. J. Martins, “Provinsi Nusa Tenggara Timur: Analisis Risiko Bencana dalam Pengembangan Wilayah dengan Pendekatan Z-Score”, j. perkota., vol. 18, no. 1, pp. 82–101, Jun. 2026, doi: 10.25170/perkotaan.v18i1.7467.